
KEUTAMAAN BULAN RAJAB
Oleh : Rustam, S.Hum., M.Hum
Hakikat dan Etimologi Bulan Rajab
Bulan Rajab merupakan bulan ketujuh dalam kalender Hijriah yang memiliki kedudukan istimewa. Secara etimologis, Rajab disebut sebagai الأصبAl-Ashabb (yang tercurah), karena pada bulan ini rahmat Allah dicurahkan kepada hamba-hamba-Nya yang bertobat. Selain itu, bulan ini dijuluki الأصمAl-Ashamm (yang bisu), karena tradisi bangsa Arab yang mengharamkan peperangan di bulan ini sehingga tidak terdengar bunyi senjata sebagai bentuk penghormatan.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda:
رجب شهر الله وشعبان شهري ورمضان شهر أمتي
“Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadan adalah bulan umatku.”
Signifikansi Simbolis dan Imbalan Spiritual
Para ahli isyarah membedah kata Rajab menjadi tiga komponen utama:
- Ra (ر): Melambangkan Rahmatullah (Rahmat Allah).
- Jim (ج): Melambangkan Jurm al-Abdi (Dosa hamba).
- Ba (ب): Melambangkan Birr al-Rabbi (Kebaikan/Pengampunan Tuhan).
Secara teologis, hal ini mengisyaratkan bahwa dosa seorang hamba berada di antara rahmat dan pengampunan Allah SWT. Sebagai bentuk imbalan bagi mereka yang berpuasa di bulan ini, Allah menjanjikan sebuah sungai di surga yang airnya lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, dan lebih segar dari air es.
Kisah Ahli Ibadah di Baitul Maqdis
Sebagai ilustrasi mengenai kemuliaan bulan ini, terdapat sebuah kisah dalam Kitab Mukasyafatul Qulub mengenai seorang wanita ahli ibadah di Baitul Maqdis:
- Amalan Khusus
Setiap kali memasuki bulan Rajab, wanita tersebut memiliki kebiasaan membaca Surah Al-Ikhlas sebanyak 12.000 kali setiap hari. Selama menjalankan ibadah ini, ia menggunakan pakaian sederhana yang terbuat dari bulu domba sebagai bentuk kerendahan hati di hadapan Allah.
2. Amanah dan Wafatnya Sang Ibu
Suatu ketika, wanita tersebut jatuh sakit. Sebelum wafat, ia berpesan kepada anak laki-lakinya: “Jika aku meninggal dunia, kafani aku dengan pakaian bulu domba yang biasa aku gunakan untuk beribadah di bulan Rajab.” Namun, setelah ibunya wafat, sang anak justru mengafaninya dengan kain kafan yang baru dan mahal karena merasa pakaian lama ibunya sudah tidak layak.
3. Pesan Melalui Mimpi
Pada malam harinya, sang anak bermimpi bertemu dengan ibunya. Dalam mimpi tersebut, sang ibu berkata: “Aku tidak rida kepadamu, karena engkau tidak menjalankan amanahku.” Terbangun dengan rasa bersalah, sang anak segera menuju makam ibunya untuk menggali kembali liang lahat dan mengganti kain kafannya.
4. Keajaiban di Liang Lahat
Betapa terkejutnya sang anak ketika mendapati liang lahat tersebut kosong; jasad ibunya telah hilang. Saat ia terheran-heran, terdengar suara tanpa rupa (hatif) yang berkata:
“Tidakkah engkau tahu bahwa Kami tidak akan membiarkan siapa pun yang berbuat ketaatan kepada-Kami di bulan Rajab terkubur sendirian?”
Kesimpulan dan Refleksi
Kisah tersebut memberikan pelajaran bahwa penghormatan terhadap bulan Rajab melalui ketulusan ibadah memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah SWT. Rajab adalah masa penyucian diri. Melalui amalan sederhana seperti berpuasa minimal satu hari atau memperbanyak zikir, seorang hamba berpeluang mendapatkan ampunan, do’a par malaikat dan kemuliaan di akhirat.
اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان آمين
Daftar Pustaka
Al-Ghazali, Muhammad, Mukasyafah al-Qulub Fi fadli Rajab, (Jeddah: Haramain, tanpa tahun)
