KEUTAMAAN BULAN SYA’BAN
Penulis : Ust. Rustam, S.Hum.,M.Hum
Dinamakan Sya’ban karena di dalamnya terpencar (yatasya’abu) banyak kebaikan. Kata ini berasal dari Al-Syi’bu (dengan kasrah pada huruf Syin) yang berarti jalan di gunung, yaitu jalan kebaikan.
Diriwayatkan dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Jika masuk bulan Sya’ban, maka sucikanlah diri kalian dan perbaikilah niat kalian di dalamnya.”
Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa hingga kami mengira beliau tidak akan berbuka, dan beliau berbuka hingga kami mengira beliau tidak akan berpuasa. Dan beliau paling banyak berpuasa di bulan Sya’ban.”
Keutamaan Puasa dan Malam Nisfu Sya’ban
Dalam hadis An-Nasa’i dari Usamah radhiyallahu ‘anhu: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau berpuasa di bulan-bulan lain sebanyak engkau berpuasa di bulan Sya’ban?” Beliau menjawab:
“Sya’ban adalah bulan yang banyak dilalaikan manusia, letaknya antara Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan di mana amal-amal diangkat kepada Tuhan semesta alam, maka aku ingin amalku diangkat saat aku sedang berpuasa.”
Dikatakan pula bahwa malaikat di langit memiliki dua hari raya sebagaimana umat Islam di bumi memiliki dua hari raya. Hari raya malaikat adalah Malam Nisfu Sya’ban dan Malam Lailatul Qadar, sedangkan hari raya orang mukmin adalah Idul Fitri dan Idul Adha. Syekh As-Subki menyebutkan dalam tafsirnya bahwa menghidupkan malam-malam ini dengan ibadah akan menjadi sebab penghapusan dosa:
Malam Jumat: Menghapus dosa dalam satu minggu.
Malam Nisfu Sya’ban: Menghapus dosa dalam satu tahun.
Malam Lailatul Qadar: Menghapus dosa seumur hidup.
Malam Nisfu Sya’ban juga disebut sebagai Malam Pengampunan, dan Malam Pembebasan (dari api neraka). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah memperhatikan hamba-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, lalu mengampuni penduduk bumi kecuali dua orang: musyrik (orang yang menyekutukan Allah) dan musyahin (orang yang saling menyimpan kebencian/permusuhan).”
Doa Rasulullah dan Ketetapan Ajal
Diriwayatkan daripada Ibnu Ishaq, daripada Anas bin Malik r.a., beliau bercerita:
“Aku pernah diutus oleh Rasulullah SAW untuk suatu keperluan ke rumah Aisyah r.a. Aku berkata kepadanya: ‘Wahai Aisyah, segerakanlah (urusan ini), kerana aku meninggalkan Rasulullah SAW sedang menceritakan tentang malam Nisfu Sya’ban.’ Aisyah r.a. kemudian berkata: ‘Duduklah wahai Anas, akan aku ceritakan kepadamu tentang malam Nisfu Sya’ban.’ Aisyah pun mula bercerita: ‘Pada suatu malam yang merupakan giliran Rasulullah SAW bersamaku, Baginda datang dan masuk bersamaku . Di tengah malam, aku terbangun dan mendapati Baginda tidak ada di sisiku. Aku pun keluar mencarinya kemudian aku mendapati Baginda sedang bersujud di masjid, sambil membacakan doa dalam sujudnya:
سَجَدَ لَكَ سَوَادِي وَخَيَالِي، وَآمَنَ بِكَ فُؤَادِي، وَهَذِهِ يَدَي وَمَا جَنَيْتُ بِهَا عَلَى نَفْسِي، يَا عَظِيماً يُرْجَى لِكُلِّ عَظِيمٍ اغْفِرِ الذَّنْبَ الْعَظِيمَ. سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ بَصَرَهُ
Sajada laka sawādī wa khayālī, wa āmana bika fu’ādī, wa hadhihi yadī wa mā janaytu bihā ‘alā nafsī. Yā ‘Azhīman yurjā likulli ‘azhīm, ighfirid-dzanbal ‘azhīm. Sajada wajhī lilladzī khalaqahū wa sawwarahū wa syaqqa basharahū.
Telah bersujud kepada-Mu seluruh raga dan jiwaku, dan telah beriman kepada-Mu hatiku. Inilah tanganku dan segala dosa yang telah aku perbuat dengannya terhadap diriku sendiri. Wahai Dzat Yang Maha Agung yang diharapkan untuk setiap perkara yang besar, ampunilah dosa yang besar. Wajahku bersujud kepada Dzat yang telah menciptakannya, membentuknya, dan membelah penglihatannya (memberi pendengaran dan penglihatan.
Bangkit dari sujud beliau berdoa:
اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي قَلْبًا تَقِيًّا نَقِيًّا، مِنَ الشِّرْكِ بَرِيًّا، لَا كَافِرًا وَلَا شَقِيًّا
Allāhummar-zuqnī qalban taqiyyan naqiyyan, minasy-syirki bariyan, lā kāfiran walā syaqiyyan.
Ya Allah, karuniakanlah kepadaku hati yang bertakwa, suci, bebas dari kesyirikan, tidak kafir, dan tidak pula celaka.
Kemudian beliau sujud kembali dan berdoa:
أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِعَفْوِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَبِكَ مِنْكَ، لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ. أَقُولُ كَمَا قَالَ أَخِي دَاوُدُ: أُعَفِّرُ وَجْهِي فِي التُّرَابِ لِسَيِّدِي، وَحَقَّ لِوَجْهِ سَيِّدِي أَنْ تُعَفَّرَ
A‘ūdzu biridhāka min sakhatika, wa bi ‘afwika min ‘uqūbatika, wa bika minka, lā uhshī thanā’an ‘alaika, Anta kamā athnaita ‘alā nafsika. Aqūlu kamā qāla akhī Dāwūd: U‘affiru wajhī fit-turābi lisayyidī, wa haqqa liwajhi sayyidī an tu‘affara.
Aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dengan ampunan-Mu dari siksaan-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari (siksaan)-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian bagi-Mu, Engkau adalah sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri. Aku berucap sebagaimana yang diucapkan saudaraku (Nabi) Dawud: Aku nistakan wajahku di atas debu untuk Tuhanku (Allah), dan memang sepantasnya bagi Tuhanku agar wajah-wajah tertunduk patuh (berdebu) untuk-Nya.
Setelah mengangkat kepalanya, Rasulullah ﷺ bersabda kepada Aisyah R.A., “Wahai Humaira, tahukah engkau malam apa ini? Ini adalah malam Nisfu Sya’ban.” Beliau menjelaskan bahwa pada malam tersebut, Allah SWT membebaskan hamba-Nya dari api neraka dalam jumlah yang sangat besar, yang diibaratkan sebanyak jumlah bulu domba milik suku Kalb—sebuah kiasan untuk menggambarkan betapa luasnya rahmat dan ampunan Allah karena suku Kalb dikenal sebagai kaum yang memiliki hewan ternak paling banyak. Namun, di tengah limpahan ampunan tersebut, terdapat enam golongan yang tidak akan mendapatkannya, yaitu para pecandu khamr, anak yang durhaka kepada orang tuanya, orang yang terus-menerus berzina, orang yang kejam, orang yang suka memukul, dan terakhir adalah orang yang suka mengadu domba.
Malam Nisfu Sya’ban juga disebut sebagai Malam Pembagian dan Ketetapan. Diriwayatkan dari Atha’ bin Yasar:
Jika telah tiba malam Nisfu Sya’ban, Malaikat Maut mulai menyalin nama-nama hamba yang ditetapkan akan wafat, mulai dari bulan Sya’ban tersebut hingga Sya’ban tahun berikutnya. Sungguh, sering kali manusia masih sibuk menanam tanaman, menikahi wanita, dan bermegah-megahan membangun bangunan, padahal ia tidak menyadari bahwa namanya telah tersalin ke dalam daftar orang-orang yang akan mati. Dan tidak ada lagi yang ditunggu oleh Malaikat Maut terhadap hamba tersebut, kecuali turunnya perintah (dari Allah), maka seketika itu pula ia akan mencabut nyawanya.
Bulan Sya’ban merupakan jembatan penuh berkah yang diibaratkan sebagai jalan setapak menuju puncak kebajikan. Di bulan yang sering dilalaikan ini, pintu ampunan dibuka seluas-luasnya, dan amal ibadah setahun penuh diangkat ke hadapan Allah SWT. Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk menyucikan diri melalui puasa dan doa yang tulus, mengingat pada malam Nisfu Sya’ban, rahmat rahmat Allah turun menyentuh bumi sekaligus menjadi momen penetapan ajal dan takdir bagi setiap hamba untuk setahun ke depan.
Oleh karena itu, mari kita manfaatkan sisa waktu di bulan Sya’ban ini sebagai sarana latihan dan pemanasan spiritual. Jadikan setiap harinya sebagai momentum untuk memperbaiki niat, memperbanyak amal saleh, dan membersihkan hati dari segala dengki agar kita benar-benar siap secara lahir dan batin dalam menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan. Dengan persiapan yang matang sejak sekarang, semoga kita dapat meraih kesempurnaan ibadah dan keberkahan yang maksimal di bulan penuh kemuliaan nanti.
Rujukan
Muhammad Al-Ghazali, Mukasyafah Al-Qulub fi fadli sya’ban Al-mubarak, (Jeddah:Haramain) hal. 297-299
