Selasa, 25 Agustus 2026, yang bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah, umat Islam Indonesia kembali memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Gema shalawat mengalun dari masjid-masjid, panggung-panggung tabligh akbar berdiri, dan kisah kelahiran sang Nabi dibacakan dengan penuh haru. Namun di luar tenda-tenda perayaan itu, bumi tempat kita berdiri sedang tidak baik-baik saja.
Sepanjang beberapa tahun terakhir, Indonesia nyaris tidak pernah sepi dari bencana hidrometeorologi. Banjir dan longsor datang silih berganti di berbagai daerah, dari Sumatera hingga Sulawesi. Musim menjadi sulit ditebak: kemarau yang memanggang, lalu hujan ekstrem yang menenggelamkan. Para ilmuwan telah lama mengingatkan bahwa suhu bumi terus memanas, sementara laju deforestasi, alih fungsi lahan, dan kerusakan daerah aliran sungai memperparah kerentanan kita. Bencana yang kita sebut “musibah alam” itu, jika ditelusuri, hampir selalu berjejak pada tangan manusia.
Di titik inilah Maulid tahun ini semestinya tidak berhenti sebagai seremoni. Ia bisa menjadi cermin: sudahkah kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW menjelma menjadi kecintaan kepada bumi yang beliau ajarkan untuk dijaga?
Al-Qur’an menegaskan misi kerasulan Muhammad SAW dalam satu kalimat yang padat:
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)
Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa rahmat kenabian Muhammad SAW tidak terbatas pada kaum beriman, melainkan meliputi seluruh makhluk. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menggarisbawahi kata al-‘alamin yang berbentuk jamak: ia mencakup alam manusia, alam hewan, alam tumbuhan, bahkan alam benda tak bernyawa. Artinya, rahmat itu bersifat ekologis sejak awal. Mencintai Nabi tanpa mencintai semesta yang menjadi sasaran rahmatnya adalah cinta yang terpotong separuh.
Keteladanan itu nyata dalam keseharian beliau. Rasulullah SAW menegur sahabat yang boros air ketika berwudu, bahkan seandainya berwudu di sungai yang mengalir (HR. Ibnu Majah). Dalam peperangan sekalipun, beliau melarang pasukannya menebang pohon dan merusak tanaman. Beliau bersabda bahwa siapa pun Muslim yang menanam tanaman lalu buahnya dimakan burung, manusia, atau hewan, maka itu bernilai sedekah baginya (HR. Bukhari dan Muslim). Beliau juga mengisahkan seorang perempuan yang masuk neraka karena mengurung seekor kucing hingga mati, dan seorang lelaki yang diampuni dosanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. Etika lingkungan, dalam kamus kenabian, bukan tema pinggiran; ia bagian dari iman.
Sementara itu, Al-Qur’an sejak empat belas abad silam telah mendiagnosis akar krisis ekologis:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)
Tafsir Kementerian Agama menjelaskan bahwa kerusakan di darat dan laut itu meliputi rusaknya ekosistem, tercemarnya lingkungan, hingga hilangnya keseimbangan alam akibat keserakahan manusia. Menariknya, ayat ini ditutup dengan harapan: la’allahum yarji’un — agar manusia kembali. Bencana, dalam kacamata Qur’ani, bukan sekadar hukuman, melainkan panggilan pulang untuk memperbaiki relasi kita dengan Sang Pencipta dan ciptaan-Nya.
Panggilan itu dipertegas dengan larangan yang lugas:
وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik.” (QS. Al-A’raf: 56)
Quraish Shihab menafsirkan bahwa bumi diciptakan Allah dalam keadaan harmonis dan layak huni; merusaknya setelah keadaan baik itu adalah pengkhianatan ganda — terhadap amanah Allah sekaligus terhadap generasi yang akan mewarisinya.
Pertanyaannya, bagaimana nilai-nilai profetik itu diwariskan? Di sinilah Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang digagas Kementerian Agama menemukan momentumnya. KBC menempatkan cinta sebagai ruh pendidikan: cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, cinta kepada ilmu, cinta kepada sesama manusia, cinta kepada tanah air, dan — yang kerap dilupakan — cinta kepada lingkungan dan alam semesta.
Selama ini, pendidikan agama kita cenderung berhenti pada dimensi ritual dan hafalan. Anak-anak fasih melafalkan dalil, tetapi tidak diajak melihat sungai yang tercemar di belakang sekolahnya sebagai persoalan teologis. KBC menawarkan koreksi: iman harus berbuah akhlak, dan akhlak harus menjangkau seluruh makhluk. Dalam kerangka inilah fikih lingkungan dan eco-theology bukan lagi wacana elite akademik, melainkan bisa hadir dalam praktik sederhana di madrasah dan sekolah: menanam pohon sebagai amal jariah, mengelola sampah sebagai latihan amanah, menghemat air sebagai sunnah Nabi, hingga menjadikan halaman sekolah sebagai laboratorium cinta kepada ciptaan Allah.
Landasannya jelas:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Ibnu Katsir menegaskan bahwa ayat ini adalah pokok agung dalam meneladani Rasulullah pada seluruh ucapan, perbuatan, dan keadaan beliau. Jika Nabi hemat air, penyayang hewan, dan pelindung pepohonan, maka meneladani beliau berarti pula menjadi pribadi yang ramah lingkungan. KBC, bila dijalankan sungguh-sungguh, adalah jembatan yang mengubah kekaguman kepada Nabi menjadi kebiasaan hidup yang menyelamatkan bumi.
Maka Maulid 1448 H ini layak kita rayakan dengan cara yang lebih membumi. Alangkah indahnya jika setiap majelis shalawat diiringi gerakan menanam pohon; jika setiap tabligh akbar bebas dari sampah plastik; jika setiap madrasah menjadikan bulan Rabiul Awal sebagai bulan cinta lingkungan. Kecintaan kepada Nabi tidak diukur dari kerasnya pengeras suara, melainkan dari sejauh mana akhlak beliau hidup dalam tindakan kita — termasuk tindakan terhadap tanah, air, dan udara.
Bumi sedang demam, dan resep penyembuhnya sudah lama tertulis: kembali (yarji’un) kepada ajaran Sang Rahmat bagi semesta. Maulid bukan sekadar mengenang kelahiran Nabi empat belas abad silam; ia adalah undangan untuk melahirkan kembali akhlak beliau dalam diri kita hari ini. Dan barangkali, bukti cinta paling jujur kepada Rasulullah SAW di zaman krisis iklim ini bukan hanya untaian shalawat di bibir, melainkan bumi yang kita jaga dengan sepenuh hati — sebagaimana beliau menjaganya.
Wallahu a’lam bish-shawab.
