Hari Santri: Jangan Sampai Sarungnya Rapi, Hatinya Lupa Mengaji
Oleh: Andi Kurnia Muin, S.Pd.I., M.Pd

Setiap 22 Oktober, pemandangan kita mendadak berubah. Bumi Indonesia dipenuhi sarung dan peci. Jalanan ramai oleh barisan santri yang berbaris rapi. Media sosial dibanjiri foto berbingkai “Selamat Hari Santri”. Bahkan orang yang seumur hidup tak pernah mondok pun ikut bangga mengenakan sarung.
Indah? Tentu. Tapi izinkan saya bertanya, dan mungkin pertanyaan ini sedikit mengganggu: setelah 23 Oktober, apa yang tersisa?
Bukan Sekadar Hari Pakai Sarung
Hari Santri lahir dari ingatan tentang Resolusi Jihad yang diserukan KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Saat itu, para kiai dan santri tidak sedang berlomba siapa paling religius. Mereka menyatakan bahwa membela tanah air adalah bagian dari iman. Seruan itu ikut menyalakan semangat perlawanan yang kemudian meledak di Surabaya pada 10 November.
Artinya, yang diperingati sesungguhnya bukan pakaiannya, melainkansikapnya. Santri dikenang karena ilmunya membuat ia berani, imannya membuat ia peduli, dan adabnya membuat ia tahu kapan harus maju dan kepada siapa harus hormat.
Al-Qur’an sendiri telah menggambarkan peran ini dengan sangat indah:
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةً ۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَࣖ
“Tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya?” (QS. At-Taubah: 122)
Ayat ini turun dalam suasana perang, tetapi justru mengingatkan bahwa tidak semua orang harus mengangkat senjata. Harus ada yang tekun menuntut ilmu, lalu pulang untuk membimbing masyarakatnya. Inilah potret santri yang sesungguhnya: ia belajar bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk kembali dan menerangi kampungnya. Perjuangan dengan senjata ada masanya, tetapi perjuangan dengan ilmu tidak pernah selesai.
Di situlah makna terdalam Hari Santri: mengingatkan bangsa ini bahwa agama dan cinta tanah air tidak pernah bermusuhan. Keduanya justru saling menguatkan. Seorang santri sejati tidak perlu memilih antara menjadi muslim yang taat atau warga negara yang baik. Ia menjadi keduanya sekaligus.
Karakter Tidak Lahir dari Upacara
Pesantren selama ratusan tahun membuktikan satu hal sederhana: karakter dibentuk oleh kebiasaan, bukan oleh pidato.
Santri belajar disiplin karena dibangunkan sebelum subuh setiap hari, bukan karena mendengar ceramah tentang disiplin setahun sekali. Santri belajar mandiri karena mencuci bajunya sendiri. Santri belajar rendah hati karena mencium tangan gurunya, lalu melihat gurunya juga mencium tangan gurunya yang lebih tua. Santri belajar sabar karena antre makan bersama ratusan kawan.
Pelajarannya jelas: jika Hari Santri hanya berhenti pada upacara, ia tidak akan membentuk karakter siapa pun. Ia hanya akan menjadi agenda tahunan yang dicentang di laporan kegiatan.
Kurikulum Berbasis Cinta: Pesantren Sudah Lama Melakukannya
Belakangan, Kementerian Agama memperkenalkan Kurikulum Berbasis Cinta. Gagasannya menyentuh: pendidikan agama harus menumbuhkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, cinta kepada ilmu, cinta kepada diri dan sesama, cinta kepada lingkungan, serta cinta kepada tanah air.
Bagi orang pesantren, ini terdengar seperti pulang ke rumah. Sebab sejak dulu pesantren mendidik dengan cinta. Kiai tidak digaji untuk mengajar, ia mengajar karena cinta. Santri tidak sekadar belajar karena takut nilai jelek, ia belajar karena berharap keberkahan. Hubungan guru dan murid di pesantren bukan hubungan transaksi, melainkan hubungan batin.
Namun justru di sinilah tantangannya. Kurikulum berbasis cinta akan menjadi jargon kosong jika di lapangan anak-anak masih dididik dengan bentakan, perundungan dibiarkan, perbedaan dicurigai, dan alam dirusak tanpa rasa bersalah. Cinta tidak bisa diajarkan oleh orang yang tidak mencintai.
Maka Hari Santri tahun ini seharusnya menjadi cermin: sudahkah kita, guru, orang tua, pejabat, dan pengurus pesantren, mendidik dengan cinta? Atau kita hanya mencintai acaranya?
Sisi Gelap Perayaan yang Jarang Dibicarakan
Ketika sebuah peringatan melibatkan seluruh ASN, organisasi masyarakat, dan ribuan santri, ada hal-hal yang patut kita waspadai bersama. Bukan untuk mencari-cari kesalahan, tetapi agar perayaan tidak justru mengkhianati maknanya.
Pertama, seremoni mengalahkan substansi. Energi habis untuk persiapan panggung, seragam, dan gladi resik, sementara pesan Hari Santri tidak pernah benar-benar dibicarakan.
Kedua, kehadiran karena kewajiban, bukan kesadaran. ASN datang karena ada daftar hadir. Sarung dipakai karena ada surat edaran. Begitu acara selesai, semangatnya ikut dilipat bersama sarung.
Ketiga, santri hanya menjadi properti acara. Mereka dijemur berjam-jam menunggu pejabat datang, dijadikan latar foto, lalu dipulangkan tanpa pernah diajak bicara atau didengar.
Keempat, sampah yang menumpuk usai perayaan. Ironis sekali jika acara yang membawa pesan cinta lingkungan dan ekoteologi justru meninggalkan tumpukan plastik, gelas air mineral, dan kotak makanan di lapangan.
Kelima, rivalitas dan klaim kelompok. Hari Santri adalah milik semua santri, apa pun ormasnya, dari pesantren besar maupun pesantren kecil di pelosok kampung. Jangan sampai perayaan berubah menjadi ajang unjuk kekuatan, saling klaim paling berjasa, atau bahkan panggung kepentingan politik.
Keenam, pamer di media sosial. Unggahan tentang Hari Santri melimpah, tetapi isinya lebih banyak tentang diri sendiri daripada tentang nilai yang diperingati.
Ketujuh, beban bagi pesantren kecil. Iuran kegiatan, biaya kostum, dan transportasi bisa memberatkan pesantren yang untuk membayar listrik saja masih kesulitan.
Semua ini bisa dicegah jika kita sepakat bahwa ukuran keberhasilan Hari Santri bukan seberapa meriah acaranya, melainkan seberapa dalam pesannya tertanam.
Santri Itu Siapa?
Ada satu pertanyaan yang menarik direnungkan: apakah santri hanya mereka yang tinggal di pondok?
Santri bukan hanya yang mondok, tetapi siapa saja yang berakhlak seperti santri. Jika demikian, maka seorang ASN yang jujur mengelola anggaran adalah santri. Pedagang yang tidak mengurangi timbangan adalah santri. Anak muda yang menolak ikut menyebarkan hoaks adalah santri.
Dengan cara pandang ini, Hari Santri bukan perayaan sekelompok orang. Ia adalah ajakan bagi seluruh bangsa untuk berakhlak seperti santri.
Setelah Sarung Dilipat, Harapan Tetap Terbentang
Pada akhirnya, Hari Santri bukan tentang satu hari. Ia tentang 364 hari lainnya.
Dan di sinilah kabar baiknya: kita punya alasan kuat untuk optimis. Hari ini, santri tidak lagi hanya dikenal sebagai ahli kitab kuning. Mereka hadir sebagai guru, dokter, pengusaha, peneliti, penulis, dan pemimpin di berbagai lini pemerintahan. Pesantren mulai membangun kemandirian ekonomi, menerbitkan buku karya santri, merawat lingkungan, dan membuka diri pada teknologi tanpa kehilangan adabnya. Di banyak lapangan pesantren, kita melihat santri dan pramuka berkemah bersama, belajar disiplin, gotong royong, dan cinta tanah air dalam satu barisan.
Semua itu menunjukkan bahwa nilai-nilai yang diwariskan para kiai di tahun 1945 tidak pernah padam. Ia hanya berganti medan perjuangan: dari mengangkat senjata menjadi mengangkat ilmu, dari mempertahankan kemerdekaan menjadi mengisinya.
Para kiai dahulu tidak meninggalkan kita upacara. Mereka meninggalkan teladan. Dan teladan itu kini ada di pundak jutaan santri yang setiap subuh bangun, mengaji, belajar, lalu bermimpi besar untuk negerinya.
Maka tahun ini, mari kita rayakan Hari Santri dengan sederhana namun bermakna: lipat sarungnya dengan rapi, simpan nilai-nilainya di hati, lalu bawa ia ke mana pun kita melangkah. Jika santri hari ini terus belajar dengan cinta dan mengabdi dengan tulus, Indonesia yang lebih beradab, lebih berilmu, dan lebih berkah bukan lagi sekadar harapan. Ia sedang kita tuju bersama.
Selamat Hari Santri Nasional 2026. Santri berakhlak, Indonesia bermartabat.
