Dalam panduan kegiatan Matsama yang disusun oleh Dirjen Pendidikan Islam dan disebarkan melalui lampiran surat tentang pelaksanaan Matsama menyebutkan bahwa kegiatan matsama merupakan pintu gerbang pertama untuk memperkenalkan lingkungan madrasah, menggali potensi dan masa depan anak.Kegiatan ini juga bertujuan untuk mengenalkan lingkungan, nilai dan karakter khusus madrasah kepada para peserta didik baru, agar selama proses pembelajaran dapat tercipta rasa aman dan nyaman untuk mengembangkan seluruh potensi diri dan kemampuannya. Tujuan lainnya adalah menumbuhkan kultur dan jiwa bangga kepada para peserta didik baru untuk belajar dan mencintai serta menjaga nama baik almamaternya, dan menanamkan dan memperkuat nilai-nilai moderasi beragama dan karakter ke-Indonesia-an kepada para peserta didik.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Pondok Pesantren Darul Mahfudz Lekopadis dalam kegiatan ini menyuguhkan beberapa materi seperti Ukhuwah, model pembelajaran, kesetaraan, anti diskriminasi dan melatih anak untuk berfikir kreatif dan kompetitif.
Sekaitan dengan rangkaian materi tersebut, Agen SPAK (Saya Perempuan Anti Korupsi) Hj.Andi Kurnia Muin turut mengisi matsama dengan memperkenalkan gerakan-gerakan anti korupsi melalui materi “Anti diskriminasi dan Anti Korupsi” pada hari kedua matsama (14/07/2020).
Meski tanpa games SPAK seperti Majo, Semai dan Put Put LK, sosialisasi tentang pentingnya kejujuran tetap bisa terlaksana. Santri dan santriwati terlihat antusias melakukan diskusi tentang perilaku koruptif.
Salah satu perilaku koruptif yang ditekankan adalah anti diskriminasi. Materi ini ditekankan karena saat itu sangat banyak kasus yang menyebabkan terisolirnya satu golongan yang minoritas. Jika dikaitkan dengan kehidupan santri, kadang terjadi kesenjangan diantara mereka hanya karena perbedaan.
Kurnia mengatakan bahwa pengetahuan tentang diskriminasi kepada anak dapat meningkatkan hubungan baik diantara mereka. Dengan tidak membeda-bedakan satu dengan yang lain maka keharmonisan diantara mereka bisa terjaga.
Diakhir kegiatan, santri dan santriwati menuliskan qoutes sebagai wujud keinginannya untuk menghilangkan diskriminasi dan perilaku koruptif dilingkungannya.
