RAMADAN: PERANG MELAWAN FIR’AUN

Ramadhan : Perang Melawan Fir’aun

Penulis : Rustam, S.Hum., M.Hum

 

Pernahkah kita merasa bahwa musuh terbesar kita bukanlah orang lain, melainkan ego kita sendiri yang terkadang merasa “paling tahu” dan “paling berkuasa”?

Dalam catatan sejarah, pertarungan antara Nabi Musa A.S. dan Fir’aun sering dilihat sebagai konflik politik kuno. Namun jika kita bedah lebih dalam, kisah ini sebenarnya adalah cermin psikologis bagi kita semua. Ini adalah kisah tentang Ketundukan (taqwa) melawan Keangkuhan (arogansi).

Di bulan Ramadhan ini, kisah tersebut menjadi sangat relevan. Mari kita lihat bagaimana puasa membantu kita melakukan  De-Fir’aunisasi (proses melepaskan atau menghilangkan sifat-sifat “Firaun” dalam diri manusia, seperti kesombongan, keangkuhan, merasa paling benar, dan sewenang-wenang).

Lailatul Qadar: Saat penetapan Takdir

Puncak Ramadhan adalah Lailatul Qadar. Di malam ini, Allah menetapkan segala urusan dengan penuh hikmah.

فِيْهَا يُفْرَقُ كُلُّ اَمْرٍ حَكِيْمٍۙ

Terjemahan Kemenag 2019

Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. Yang dimaksud dengan segala urusan yang penuh hikmah adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan makhluk, seperti hidup, mati, rezeki, nasib baik, dan nasib buruk. QS. Ad-Dukhan: 4

Ingat, bagaimana Fir’aun menghabiskan hidupnya melawan takdir? Ia takut pada ramalan bahwa kekuasaannya akan runtuh oleh seorang anak Bani Israil. Ia membangun benteng, mengerahkan tentara, hingga membunuhi setiap bayi laki-laki yang lahir kalangan Bani Israil. Namun, justru upaya perlawanan itu tidak membuahkan hasil yang diinginkan, ironisnya tatkala Musa sang bayi yang ditakdirkan untuk membawa kehancuran baginya terlahir justeru Fir’aun lah yang merawatnya.

Ramadhan mengajarkan kita strategi yang berbeda: Jangan lawan takdir dengan otot, tapi “negosiasikan” dengan doa. Di malam Lailatul Qadar, kita diajak untuk berserah dalam sujud. Kita mengakui bahwa takdir tidak bisa diubah dengan sifat keras kepala, melainkan kita dapat memohon keselamatan dan petunjuk dengan mengetuk pintu langit.

Belajar dari “Keranjang Nil”: Seni Melepaskan Genggaman

Salah satu momen paling mendebarkan dalam sejarah adalah saat Ibunda Musa menghanyutkan bayinya ke Sungai Nil. Secara logika, itu berbahaya. Namun secara iman, itu adalah kepasrahan yang luar biasa (tawakkal).

وَاَوْحَيْنَآ اِلٰٓى اُمِّ مُوْسٰٓى اَنْ اَرْضِعِيْهِۚ فَاِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَاَلْقِيْهِ فِى الْيَمِّ وَلَا تَخَافِيْ وَلَا تَحْزَنِيْ ۚاِنَّا رَاۤدُّوْهُ اِلَيْكِ وَجَاعِلُوْهُ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ

Terjemahan Kemenag 2019

Kami mengilhamkan kepada ibu Musa, “Susuilah dia (Musa). Jika engkau khawatir atas (keselamatan)-nya, hanyutkanlah dia ke sungai (Nil dalam sebuah peti yang mengapung). Janganlah engkau takut dan janganlah (pula) bersedih. Sesungguhnya Kami pasti mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya sebagai salah seorang rasul.” QS. Al-Qashash: 7

Puasa adalah latihan menghanyutkan keranjang kebutuhan kita. Kita melepaskan makan, minum, dan keinginan yang biasanya kita genggam erat-erat sepanjang tahun. Kenapa kita berani? Karena kita yakin, sebagaimana Sungai Nil tidak mencelakai bayi Musa atas izin Allah, rasa lapar ini pun tidak akan membinasakan kita. Justru, arus dan guncangan saat melakukan puasa akan membawa kita ke muara ketakwaan yang lebih tinggi.

De-Fir’aunisasi: Menyadari Bahwa Kita Hamba, Bukan Tuhan

Jujur saja, setiap dari kita punya benih “Fir’aunisme” kecil di dalam hati. Itu adalah perasaan merasa serba bisa, merasa paling berjasa, dan enggan diatur.

Fir’aun Berkata

Ramadhan Menjawab

“Akulah tuhanmu yang paling tinggi!”

“Kamu hanyalah makhluk yang lemas jika tidak minum seteguk air.”

Merasa kuat karena harta dan jabatan.

Apa saja yang kalian miliki pahamilah bahwa semua itu titipan yang bisa hilang dalam sekejap.

Rasa haus dan lapar di siang hari adalah pesan Tuhan agar kita mengecilkan ego kita. Puasa adalah proses De-Fir’aunisasi—upaya sadar dan menyadari bahwa sehebat apa pun jabatan kita, kita tetaplah hamba yang butuh makan dan butuh Tuhan.

Penutup: Mari Menjadi Musa, Bukan Fir’aun

Ramadhan mengingatkan kita bahwa hidup ini seperti arus Sungai Nil yang deras. Kita punya dua pilihan:

Pertama menjadi seperti Fir’aun yang mencoba melawan arus dengan kesombongan, namun akhirnya tenggelam.

Kedua menjadi seperti Musa yang mengikuti alur ketetapan Allah dengan penuh ketaatan dan berakhir pada derajat ketaqwaan.

Hadirnya Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk meletakkan “tongkat” ego kita. Mari kita berhenti menyombongkan kekuatan diri sendiri dan mulai menggunakan harta, jabatan, dan kekuatan yang apapun kita miliki untuk kebaikan bersama, sebagai bentuk berhasilnya Ramadan dalam mendidik dan membunuh sifat-sifat Fir’aun di dalam diri kita. (akm)

Pilihan ada di tangan kita: menjadi seperti Fir’aun yang tenggelam karena melawan arus ketetapan-Nya, atau menjadi seperti Musa yang selamat karena taat mengikuti alur hidayah-Nya. _ Rustam, S.Hum.,M.Hum _