Pondok Pesantren Modern dalam Membentuk Karakter Kepemimpinan Santri

Pesantren berasal dari kata santri dengan awalan pe- dan akhiran –an (pesantrian) yang berarti tempat tinggal para santri. Soegarda Poebakawatja yang dikutip oleh Haidar putra Daulay mengatakan bahwasanya pesantren berasal dari kata santri yaitu seseorang yang belajar agama Islam, sehingga pesantren mempunyai arti tempat orang berkumpul untuk belajar agama Islam. Ada pula yang mengartikan pesantren sebagai suatu lembaga pendidikan Islam Indonesia yang bersifat “tradisional” untuk mendalami ilmu tentang agama Islam dan mengamalkannya sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kamus besar bahasa Indonesia pesantren diartikan sebagai asrama tempat santri atau tempat murid-murid belajar mengaji.

Pondok pesantren adalah lembaga keagamaan yang memberikan pendidikan dan pengajaran serta mengembangkan dan menyebarkan ilmu agama Islam. Pondok pesantren juga dapat di artikan sebagai gabungan pondok dan pesantren. Istilah pondok mungkin berasal dari kata funduk dari bahasa arab yang berarti rumah penginapan atau hotel. Namun, dalam pesantren di Indonesia khususnya pulau Jawa lebih mirip dengan pemondokan atau lingkungan padepokan, yaitu perumahan sederhana yang di petak-petak dalam bentuk kamar-kamar yang merupakan asrama bagi para santri.

Berdasarkan kurikulum, pesantren terbagi tiga, yaitu pesantren tradisional (salafiyah), pesantren modern (khalaf atau asriyah) dan pesantren komprehensif (kombinasi). Terfokus pada pesantren modern. Pesantren modern berupaya memadukan tradisionalitas dan modernitas pendidikan. Sistem pengajaran formal ala klasikal (pengajaran di dalam kelas) dan kurikulum terpadu yang diadopsi dengan penyesuaian tertentu. Ilmu agama dan umum sama-sama diajarkan, namun dengan proporsi pendidikan agama yang lebih mendominasi. Menurut Barnawi, pesantren modern telah mengalami transformasi yang sangat signifikan baik dalam sitem pendidikan maupun unsur-unsur kelembagaannya. Pesantren modern ini telah dikelola dengan manajemen dan administrasi yang sangat rapi dan sistem pengajarannya dilaksanakan dengan porsi yang sama antara pendidikan agama dan pendidikan umum serta penguasaan bahasa Inggris dan bahasa Arab.

Dalam pesantren modern terdapat beberapa metode yang disebut dengan Metode Kaderisasi Pemimpin, antara lain:

  • Pengarahan

Pemberian arahan kepada para santri sebelum melaksanakan berbagai kegiatan merupakan hal yang penting dalam proses pembentukan karakter pemimpin. Dalam proses pengarahan, santri diberikan pemahaman mengenai seluruh kegiatan yang akan dilaksanakan, kemudian dievaluasi setelahnya untuk mengetahui standar pelaksanaan kegiatan tersebut. Maka, banyak dari pesantren modern yang melakukan pengarahan sebelum kegiatan seperti pengarahan pembukaan tahun ajaran baru, pengarahan ujian, pengarahan pembagian jadwal guru dan kegiatan lainnya. Pengarahan bertujuan untuk memberikan pemahaman terhadap santri agar mereka mengerti untuk apa kegiatan tersebut dilaksanakan, bagaimana teknik pelaksanaannya, mengapa dilaksanakan, siapa yang melaksanakan dan juga mengetahui isi dan filosofi dari kegiatan tersebut.

  • Pelatihan

Pelatihan merupakan suatu upaya dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia. Maka dari itu, selain pengarahan santri juga harus mendapatkan pelatihan-pelatihan hidup sehingga mereka mampu meningkatkan mutu keterampilan mereka dan dapat trampil dalam bersikap. Dari pelatihan-pelatihan yang diikuti oleh santri, mereka akan memiliki wawasan yang cukup luas, baik dari segi keilmuan, pemikiran, dan pengalaman. Seperti pelatihan organisasi tingkat asrama sampai tingkat pelajar, kursus atau klub-klub seni dan olahraga, dan lain sebagainya.

  • Penugasan

Penugasan merupakan sebuah proses penguatan dan pengembangan diri para santri. Penugasan menjadi hal yang melekat bagi santri di pesantren modern. Salah satu pondok modern, yakni Pondok Modern Darussalam Gontor menerapkan penugasan sebagai proses kaderisasi para santrinya. Melalui penugasan, para santri akan terlibat dan memfungsikan dirinya dari berbagai kegiatan dan tugas. Keterlibatan diri dalam berbagai kegiatan dan tugas, dapat membentuk jiwa santri yang kuat dan trampil dalam mengahadapi persoalan hidup. Melalui penugasan, dapat membuka peluang lebih dalam mewujudkan pembelajaran yang luas dengan menyertakan pengalaman dan perasaan yang didapatkan oleh para santri.

  • Pembiasaan

Pembiasaan merupakan sebuah cara untuk megembangkan karakter mental santri di pesantren modern. Melalui pembiasaan, santri akan mampu hidup secara teratur dengan sendirinya. Dalam proses pendidikan yang diawali dengan sebuah paksaan untuk mendisiplinkan seorang santri, dengan berjalannya waku ia akan melakukan dan mengerjakan semua kegiatan dengan disiplin dan akhirnya terbiasa. Misalnya dalam hal sholat, seorang santri harus terus diarahkan dan difahamkan untuk pergi ke masjid ketika datang waktu sholat.